SEJARAH WARUGA SAWANGAN

oleh : Franky Sondey, disadur dari beberapa tulisan.

PEMBUATAN WARUGA

Berdasarkan perintah dan ide dari Dotu Runtuwarouw karena wilayah desa Sawangan bertambah menuju ke Utara, ditemukan lagi daerah yang dirasa cocok untuk pembuatan Waruga, maka tempat ketiga yang dirasa cocok untuk pengambilan bahan tersebut yaitu di wilayah Tataan. Bukit ‘batu’ (domato) atau bahasa ilmiahnya, Sarkofagus, di Tataan ada dua, yang satu yang tinggi disebut orang sebagai bukit yang laki-laki, sedangkan yang agak pendek disebut orang sebagai bukit perempuan. Sama seperti yang terjadi dalam pembuatan waruga sebelumnya (Baca: Sejarah desa Sawangan) di Sosolongen- Saduan dan di Karepot, pembuatan Waruga disinipun selalu menemui hambatan-hambatan dikarenakan peralatan yang digunakan masih sangat sederhana. Dimasa kepemimpinan dotu Runtuwarouw, beliau dibantu oleh dua dotu, yang pertama bernama dotu Rorimpandey yang bertugas sebagai Tona’as (dukun) untuk mengobati orang-orang sakit, dan kedua, Dotu Ruruwawa yang menguasai air tawar dan air laut. Dalam suatu perjalanan dotu Ruruwawa bersama beberapa anak buahnya yang menyusuri sungai Tondano, saat tiba ditepi laut mereka melihat tujuh perahu layar (Perahu layar milik bangsa Spanyol). Komunikasi diantara Rombongan dotu Ruruwawa dan ABK dari perahu layar Spanyol terhambat karena hanya menggunakan bahasa isyarat, sehingga terjadi salah pengertian antara mereka, sehingga ke tujuh perahu layar tersebut tidak diizinkan untuk mendarat. Dan akhirnya, atas kesepakatan bersama, mereka berdamai, dan dalam perkunjungan orang-orang Spanyol ke desa Sawangan tersebut mereka sempat membantu penduduk setempat dengan meninggalkan beberapa peralatan seperti Pahat dan Senoto yang terbuat dari besi baja kuat yang dipakai oleh penduduk setempat dalam pembuatan Waruga yang sampai saat ini terlihat sebagai Waruga yang mempunyai ukiran berupa lambang-lambang dan patung. Waruga adalah merupakan wadah kubur yang digunakan oleh masyarakat Sawangan sebagai tempat penguburan mayat dari anggota keluarga yang meninggal pada zaman dahulu kala. Menurut informasi waruga Sawangan ini semula tersebar di kebun maupun rumah-rumah penduduk desa, namun kemudian dikumpulkan pada satu lokasi di tempat yang  sekarang ini. Walaupun begitu sampai tahun 1976 waruga di Situs Sawangan ini masih dalam keadaan yang tidak teratur seperti sekarang ini dan tidak memiliki pagar keliling. Kemudian pada tahun 1977 kompleks waruga ini mengalami pemugaran oleh Kantor Suaka Sejarah dan Purbakala Ujung Pandang bersama dengan Bidang Muskala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara. Setelah pemugaran itu maka waruga di Situs Sawangan ini menjadi teratur rapi dan memiliki jalan setapak di dalam kompleks waruga serta diberi pagar keliling dari kawat berduri. Pada tahun 2006 dibuatkan pagar tembok batako mengelilingi kompleks oleh Kantor Dinas Pariwisata Provinsi. Sebelum memasuki kompleks waruga terlebih dahulu harus dilalui kompleks pekuburan umum. Pekuburan umum ini sebenarnya juga merupakan pekuburan yang cukup tua, dibuktikan dengan adanya kubur-kubur yang berasal dari tahun seribu delapan ratusan. Namun oleh masyarakat desa ini pekuburan tersebut masih digunakan sampai sekarang. Yang menarik pekuburan ini tidak hanya menjadi kuburan umat Kristiani, tetapi juga menjadi kuburan umat lain selain Kristiani. Pada waktu pemugaran di dalam waruga banyak ditemukan  benda-benda sebagai isinya, yaitu berupa piring-piring keramik, manik, tulang-tulang manusia dan benda-benda logam serta gelang-gelang perunggu. Luas lahan yang berisi konsentrasi waruga berukuran 60 x 137 meter, dengan luas zona penyangga 10 x 137 meter. Jadi luas situs secara keseluruhan adalah 274 x 70 meter termasuk lahan kosong di belakang kompleks waruga dan jalan masuk ke kompleks waruga. Di luar zona inti dan zona penyangga ada lahan seluas 40 x 40 meter yang berisi rumah adat minahasa sebagai museum, aula, tempat parkir, 4 wc dan taman. Situs ini berada di belakang perumahan  dan lahan penduduk. Pada lahan penduduk terdapat berbagai tanaman pohon dengan jenis tanaman yang berupa pohon mangga, durian, manggis, langsat, cengkih dan lain-lain. Penduduk desa ini cukup padat, karena hampir semua lahan di sekitar kompleks waruga ini masih ada yang kosong yang dapat dipakai untuk zona penyangga dan pengembangan. Ditinjau dari jumlah yang cukup banyak dan bentuk-bentuk maupun hiasan waruga yang indah, diperkirakan jumlah penduduk di lokasi ini pada masa yang lalu juga memang cukup banyak dan juga memiliki ekonomi yang cukup baik. Kemungkinan Desa Sawangan pada masa lalu merupakan desa yang cukup besar dan ramai, dengan masyarakat yang berpenghasilan cukup tinggi. Kehidupan masyarakat cukup makmur dengan lingkungan alam yang mendukung. Udara di daerah ini cukup sejuk dengan curah hujan yang cukup tinggi, serta persediaan air sangat banyak. Tanahnya subur, sehingga berbagai macam tanaman produktif dapat tumbuh di tempat ini. Waruga-waruga pada situs ini terbuat dari bahan batuan tufa, sehingga cukup kuat dan tahan lama. Bahan untuk membuat waruga sudah tersedia atau disediakan oleh alam, yang banyak terdapat di daerah Minahasa Utara. Waruga di dalam situs itu berjumlah 144. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa “waruga” berasal dari dua kata, yaitu “waru” yang berarti “rumah” dan “ruga” yang berarti “badan”. Jadi, waruga dapat diartikan sebagai “rumah tempat badan yang akan kembali ke surga”. Konon, makam yang terbuat dari batu yang dipahat dan dibentuk seperti rumah khas orang Minahasa ini adalah salah satu warisan tradisi zaman megalitikum yang terus dipertahankan hingga kira-kira pertengahan abad ke-19.  Hal ini dapat dibuktikan dari pahatan angka tahun pada beberapa waruga seperti: 1769, 1839, 1850 dan lain sebagainya. Waruga dahulu digunakan sebagai sarana pemakaman keluarga yang ditaruh di pekarangan atau di kolong rumah. Namun, tidak semua orang Minahasa Utara memiliki waruga. Hanya orang-orang yang mempunyai status sosial yang cukup tinggi saja yang memilikinya.  Itu pun jumlahnya tidak terlalu banyak. Menurut catatan, di seluruh daerah Minahasa bagian utara, termasuk Kodya Manado, hanya terdapat sekitar 2.000 buah waruga yang tersebar di beberapa tempat seperti: Sawangan 142 buah, Airmadidi Bawah 155 buah, Kema 14 buah, Kaima 9 buah, Tanggari 14 buah, Woloan 19 buah, Tondano 40 buah dan lain sebagainya.  Pada awal abad ke-20, tradisi mengubur mayat dalam waruga ini berhenti karena muncul wabah penyakit (kolera dan tifus) yang diduga bersumber dari mayat yang membusuk dalam waruga. Di daerah Sawangan, atas instruksi Hukum Tua (kepala desa), waruga-waruga yang tersebar diseluruh desa dikumpulkan dan diletakkan di pinggir desa. Hal ini dilakukan agar warga desa tidak terjangkit wabah penyakit yang disebabkan oleh mayat yang membusuk tadi.  Waruga-waruga yang ada di daerah Minahasa ini mulai banyak menarik perhatian orang luar, terutama para peneliti, sejak C.T. Bertling menulis artikel De Minahasche Waruga en Hockernestattung yang dimuat dalam majalah Nederlansche Indis Oud en Niew (NION), No. XVI, tahun 1931. Setelah itu, C.I.J. Sluijk juga menulis artikel tentang waruga berjudul Tekeningen op Grafsten uit de Minahasa. Pada tahun 1976, Drs. Hadi Moeljono yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan, mengadakan penelitian tentang waruga di Kabupaten Minahasa. Dari hasi penelitiannya itu, pada tahun 1977 Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan melakukan pemugaran terhadap kompleks waruga di Sawangan dan Airmadidi. Hasilnya, pada tahun 1978 kompleks makam itu menjadi suatu Taman Waruga. Oleh pemerintah taman waruga ini kemudian dijadikan sebagai benda cagar budaya dan sekaligus juga sebagai obyek wisata budaya yang unik dan menarik. Kompleks makam waruga Sawangan peresmiannya dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Dr. Daoed Joeseof pada tanggal 23 Oktober 1978. Kompleks Taman Waruga Sawangan. Taman Waruga dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: tempat pemakaman, museum, dan bangunan tambahan. Berikut ini adalah uraian tentang bagian-bagian tersebut. Tempat pemakaman yang berisi ratusan buah waruga berada di bagian belakang taman. Waruga-waruga yang ada di tempat ini bahannya terbuat dari batu dengan lebar rata-rata 1 meter dan tinggi 1-2 meter, terdiri atas dua bagian yang berfungsi sebagai wadah dan tutup. Bagian tutup waruga bentuknya menyerupai atap rumah yang menjulang tinggi. Di bagian tutup ini banyak dipahatkan berbagai macam hiasan berupa: manusia dalam berbagai posisi, binatang, benda alam, tumbuh-tumbuhan, matahari, tumpal, untaian permata, rumbai-rumbai, ragam hias geometris dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa hiasan-hiasan tersebut merupakan gambaran situasi surgawi atau gambaran situasi saat orang yang ada di dalamnya mati. Misalnya, ada yang meninggal waktu melahirkan, digambarkan dalam posisi mengangkang. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa hiasan-hiasan itu merupakan gambaran profesi saat orang itu masih hidup. Misalnya, apabila di waruga tersebut ada gambar binatang, maka orang yang dikubur di dalamnya, dahulunya adalah seorang pemburu. Atau hiasan orang yang sedang bermusyawarah, maka dahulu orang yang dikuburkan di waruga itu adalah seorang Dotu Tangkudu (hakim). Pada bagian depan kompleks kubur Waruga terdapat sebuah museum yang bentuknya berupa rumah panggung khas Minahasa. Di dalam museum itu terdapat beberapa lemari kaca yang menyimpan berbagai macam cincin, gelang, kalung, keramik Cina dari Dinasti Ming dan Ching, tulang belulang manusia dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut adalah isi dari waruga yang telah dibongkar dan dipindahkan ke dalam museum. Sebagai catatan, mayat yang akan diletakkan di dalam waruga biasanya disertai dengan barang-barang perhiasan miliknya. Di sebelah museum, ada sebuah bangunan pendukung yang berbentuk rumah “modern”. Bangunan ini pada bagian depannya tidak berdinding dan di dalamnya terdapat sebuah kereta yang tampak seperti kereta pengangkut jenazah. Di Situs Sawangan juga ada juru perliharanya yang bertugas menjaga kebersihan dan keamanan waruga. Namun, karena banyaknya jumlah waruga di situs ini maka seorang juru pelihara tampaknya tidak memadai untuk menjaga kebersihan dan keamanan situs dan benda cagar budaya itu. Apabila tidak diperlihara dengan baik, dikhawatirkan waruga-waruga itu terancam akan mengalami kerusakan oleh tangan-tangan jahil dan pengaruh alam yang lebih parah lagi. Oleh sebab itu, waruga-waruga itu harus terus dilestarikan dengan direhab secara berkala, dipelihara atau dibersihkan secara rutin, agar tetap menjadi daya tarik bagi masyarakat wisatawan maupun pemerintah dan pihak-pihak yang berkaitan. Selain itu, apabila benda ini dilestarikan sesuai dengan kaidah-kaidah arkeologi, niscaya akan menjadikan objek benda cagar budaya ini menjad atraksi wisata yang cukup menarik. Kondisi waruga saat ini sudah tertata dan dalam keadaan terkumpul atau terkonsentrasi di dalam suatu kompleks. Yang perlu dilakukan terhadap kompleks waruga ini adalah agar bentuk pagar dan jalan-jalan setapak di dalam kompleks, supaya dibuat lebih alamiah dan sesuai dengan suasana megalitik yaitu dengan dilapisi batu-batu alam.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

6 Balasan ke SEJARAH WARUGA SAWANGAN

  1. calvin berkata:

    mantap…

  2. richard lintjewas berkata:

    Good job “Telah”……

  3. annisa berkata:

    pengen tau ne waruga ditemukan dimana ?

    • Banyak penemuan Waruga ditemukan di tanah Minahasa ini, walaupun belum banyak peneliti yang mengumumkan secara pasti umur tertuanya berdasar disiplin ilmu yang mereka pelajari. Annisa bisa googling aja dulu untuk dapat info yang lebih lengkap. Makasih buat perhatiannya.

  4. NS Wijono berkata:

    dari manado ke bitung sempat mampir ke waruga di sawangan. Luar biasa budaya kita. Tp sayang setelah turun dari musium yg berupa rumah panggung, WC nya ga ada air dan bau sekali. Melihat buku tamu, bnyk turis asing yg dtg…..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s