Sejarah Jemaat GMIM “Immanuel” Sawangan

GMIM IMANUEL SAWANGANMENELUSURI SEJARAH JEMAAT IMMANUEL SAWANGAN

Oleh : Pnt. Franky D. Sondey

(disadur dari tulisan  Pdt.David M. Lintong, STh.)

Pendahuluan.

Sejarah jemaat Immanuel Sawangan tidak dapat dilepaskan dari sejarah gereja di Minahasa khususnya sejarah Gereja Masehi Injili di Minahasa yang mana jemaat ini termasuk di dalamnya.

Jemaat di Sawangan lahir dan bertumbuh disuatu tempat pada suatu waktu tertentu dengan mempertemukan  dengan adat kebiasaan masyarakat juga agama kepercayaan ditempat itu.

Oleh sebab itu, sebelum berbicara tentang sejarah jemaat, dikemukakan tentang kehidupan masyarakat sebelum injil tiba di Sawangan.   Itulah yang kita temui dalam Bab pertama.

Kemudian dalam Bab dua digambarkan secara singkat penginjilan di Minahasa dimulai dengan misi Katolik, zaman VOC (Verenigde Oost Indishe Company), penginjilan oleh NZG (Nederlandse Zendeling Genoostschap) sampai diserahkan kepada Gereja Protestan Indonesia.

Dalam Bab Tiga ditelusuri bagaimana Injil tiba di Sawangan sampai menjadi salah satu jemaat dalam lingkungan Gereja Masehi Injili Minahasa yang berdiri sendiri tahun 1934.  Dalam Bab Empat dikemukakan secara singkat GMIM yang berdiri sampai tahun 1943.  Perkembangan jemaat Sawangan sejak tahun 1934 sampai sekarang yang dibahas dari :

  1. Para pemimpin jemaat dan kepelayanan
  2. Kegiatan, pergumulan, tantangan yang dihadapi jemaat
  3. Kehadirannya ditengah masyarakat
  4. Hubungan dengan pemerintah dan golongan lain dan dalam agama lain termasuk  didalamnya kerukunan antar umat beragama
  5. Kegiatan diakonia baik karitatif, diakonia sosial dan penatalayanan
  6. Dll.

Itulah yang akan dikemukakan dalam Bab Lima.

Tentulah pembaca dapat mengemukakan bagaimana pandangan kedepan sesudah mengkaji kenyataan historis yang dihadapi jemaat selama ini.  Pandangan kedepan bertolak dari ungkapan :”Pengalaman adalah guru yang baik”, sehingga usaha bukan saja mengenang masa lalu melainkan melangkah kedepan secara kreatif, inovatif dan bertanggungjawab.

BAB SATU

Kehidupan Masyarakat Sawangan Sebelum Injil Masuk

Pekerjaan penduduk sama seperti dinegeri-negeri lainnya di Tonsea yaitu bertani dengan kebun padi serta jagung yang luas.  Hasilnya dijual ke Kema dan Manado.  Tanaman kelapa cukup luas karena berada di dataran  rendah.  Di Tonsea-lama  banyak ditanam kentang sedangkan di Lilang, Kaasar dan tempat lainnya ditanam bawang merah, karena air yang cukup banyak sehingga banyak juga yang membuat kolam ikan.

Sifat dan kelakuan mereka dapat digambarkan seperti berikut:

Raut muka  tidak memiliki sesuatu yang bersifat gagah, mereka (Tonsea) sudah merupakan suatu keturunan yang mundur, suatu ras yang umumnya sudah terkuras tenaganya, bukan karena pekerjaan yang berat melainkan karena adanya perkawinan usia muda.  Masih kekanak-kanakan, belum dewasa sudah kawin, kemudian cerai dan kedua pihak hidup berzinah, dengan demikian melahirkan keturunan yang lebih lemah.  Adakalanya terdapat tahun-tahun lebih banyak kematian daripada kelahiran.

Orang biasa memaki dengan kata-kata kotor yang punya arti yang negatif.  Disebut juga munafik, sifat yang mengerlipkan mata serta nada tertawa yang nyaring terbuka serta bersifat gasang.

Bersifat suka mencela dalam arti yang negatif sekali.  Orang tua atau muda yang berkumpul selalu memperhatikan pejalan kaki dengan memperhatikan :  caranya berjalan, sikapnya, raut mukanya, pakaiannya dan muncullah ejekan, cacat badaniah dijuluki dengan istilah tertentu seperti kepala serong, mata sebelahnya tidak melihat lagi dikatakan ya’yo si penera artinya sedang datang seorang yang dipanggang.  Atau ungkapan si rempot yang kumuh bagi seorang yang mempunyai tanda bekas luka.

Tiap hari mereka saling mencela.  Seorang pemuda yang mau melamar seorang gadis bisa ditolak karena warna kulitnya lebih gelap.  Ada juga yang bersifat pandang enteng.

Yang perlu dicatat juga bahwa diantara orang Tonsea  ada yang ahli dalam seni.

Mereka juga terdidik sebab itu bertemu dengan orang Eropa dengan tenang saja, namun sering beralih menjadi tidak sopan tanpa malu-malu, juga suka berbohong juga berani mengadukan yang sifatnya pengaduan palsu.

Menurut penuturan Graafland, agama suku yang ada di Sawangan ada berbagai cerita dan ritus, berbagai foso dan mereka mempunyai pemimpin yang disebut Walian.

Sawangan adalah ibu negeri dari penyembahan berhala di daerah ini.

Dikuburan terdapat berbagai figura yang diukir pada waruga.

Terdapat bayak patung dan kebanyakan berbentuk binatang.  Disana terdapat makhluk yang mengerikan berkepala empat yang melambangkan tabiat yang acuh tak acuh, pemandang enteng, percaya pada mistik dan dosa. (Band. Graafland, 1987:48-495).

Mungkin yang ada didaerah ini (Minahasa) terutama animisme yaitu kepercayaan kepada jiwa-jiwa.

Hal itu bertolak dari kepercayaan bahwa manusia yang mati namun jiwanya tetap hidup.  Jiwa dari seseorang yang sangat disegani/ dihormati sewaktu hidupnya, dianggap sebagai jiwa yang dapat menjadi tempat menanyakan sesuatu.  Itulah yang dikenal dengan kata opo-opo. Selain itu dalam agama suku dikenal tentang apa yang disebut dinamisme, yaitu suatu kepercayaan tentang sesuatu yang mempunyai kekuatan gaib.  Pohon, batu dan tempat yang seram, juga ikat pinggang berisi berbagai jimat.  Kadang-kadang jimat itu dianggap punya kekuatan sehingga dapat membentengi seseorang yang mempergunakannya dan percaya akan kekuatan/keampuhan jimat itu.  Tiap daerah punya opo yang diunggulkan didaerahnya oleh pengikut animisme.  Begitu juga tiap daerah ada pusat atau benda/pohon dan sebagainya yang diandalkan sebagai tempat untuk mendapatkan kekuatan, ketangguhan dalam menangkis serangan atau melindungi diri dari sesuatu bahaya yang mengancam.

BAB III

Sejarah Ringkas Gereja di Minahasa

Sebelum Diserahkan Kepada Gereja Protestan Indonesia

Disuatu pihak yang merupakan ciri keadaan di Indonesia pada tahun 1500 ialah: pengislaman secara berangsur-angsur dengan segala akibatnya.

Tetapi pada pihak lain juga kita melihat kontak langsung dengan negara-negara Barat.

Bangsa Portugis mulai muncul, diikuti Spanyol.  Munculnya dua bangsa ini membawa perobahan besar baik dibidang politik, ekonomi, juga agama.

Modernisasi di Eropa sangat membantu cita-cita orang barat mencari jalan menemukan daerah-daerah baru terutama di Asia, termasuk Indonesia.  Dapat dikatakan bahwa pelopornya adalah bangsa Portugis dan Spanyol.

Sejak tahun 1350 Portugis sudah mencari  jalan laut ke Asia Timur.  Ada dua maksud yaitu mau berdagang rempah-rempah di Maluku dan meneruskan perang salib.  Dengan alasan-alasan itulah Portugis dan Spanyol tiba di Indonesia.

Mencegah terjadinya perebutan daerah, atas permintaan kedua kerajaan (Spanyol dan Portugis), maka dunia dibagi dua oleh Paus Alexander VI pada tahun 1494.  Suatu garis bujur sejauh 370 mil sebelah barat tanjung Verde membatasi pengaruh kedua belah pihak.  Sebelah barat milik Spanyol, timur milik Portugis.  Dengan demikian maka Indonesia  termasuk wilayah kekuasaan Portugis.  Tetapi sejak tahun 1590 Portugal masuk jajahan Spanyol sehingga Spanyol juga datang di Indonesia.

Dalam perjalanan bangsa Portugis yang dikirim gubernur Portugis dari Ternate pernah singgah di Minahasa.  Sebuah peta yang dibuat tahun 1512 dicatat di Minahasa sebagai pulau damar dan menghasilkan kayu cendana.

Kapal Portugis yang dikirim gubernur Portugis dari Ternate disertai Paderi Diogo de Magelhaes.  Ia mengKristenkan 1500 orang termasuk raja Manado pada tahun 1563.  Dengan kejadian ini dapat dikatakan gereja sudah mulai di Minahasa.  Pernyataan ini didasarkan pada pemilihan penentuan adanya gereja mulai di suatu tempat :

  1. Pada waktu penginjil tiba di tempat itu
  2. Pada waktu sudah ada orang Kristen datang menetap di daerah/tempat itu
  3. Pada waktu baptisan pertama
  4. Pada waktu adanya lembaga gereja dengan tata gerejanya.

Kalau begitu, gereja disini menrurut pernyataan ini, berarti pada waktu baptisan pertama.

Sesudah itu berturut-turut dikirim di Minahasa paderi Mascarenhas tahun 1568, Scialamonte dan Cosmos Pinto tahun 1619.

Tahun 1620 Pater Simi datang, Blas Palomio, tahun 1619 mengunjungi negeri-negeri di Minahasa antara lain Manado, Kali, Kakaskasen, Tomohon, Sarongsong, Tombariri, Tondano, Kema.  Sedangkan paderi Yuan Yeranzo masuk pedalaman Minahasa dan menetap di Tomohon dan Kali, kemudian ia diganti oleh paderi Lorenzo Garalla.  Pada tahun 1644, berakhirlah kegiatan misi Katolik di Minahasa akibat perang antara Spanyol dan Tombulu.  Spanyol terpaksa angkat kaki dari Minahasa pada tahun 1657.

Pada tahun 1602, di Belanda terbentuk suatu maskapai perkapalan dengan nama Verenigde Oost Indische Company (VOC).  Sesudah Portugis dan Spanyol keluar dari Minahasa maka VOC menguasai Minahasa.

Badan ini mempunyai satu-satunya hak kedaulatan dan kepadanya diharuskan pemeliharaan atas kepercayaan umum.  Ia harus melaksanakan artikel 36 pengakuan iman Belanda yang isinya, bahwa pemerintah bertugas memelihara gereja yang kudus untuk melawan serta memberantas segala agama palsu dan penyembahan berhala, untuk memusnahkan kerajaan anti Krist dan memajukan agama Kristus.  Juga dengan semboyan pada masa itu yang terkenal : CUIUS REGIO, UIUS RELIGIO yang berarti rakyat harus menganut agama pemerintahnya.  Dengan sendirinya pekabaran injil di Minahasa berada dalam tangan Protestan sebab VOC datang dengan membawa panji Protestan.

Kedatangan VOC di Minahasa disertai juga pendeta-pendeta.  Pada tahun 1663 ternyata bahwa sebagian besar Manado sudah Kristen.  Tahun 1674 di Manado sudah terdadat satu gerja, satu sekolah dengan 25 murid, dua guru, 499 orang Kristen serta kurang lebih 100 orang beragama animisme.

Ds Montanus mengunjungi Manado tahun 1675 melapor adanya segolongan orang Kristen.  Pada tahun 1677 ditempatkan seorang pendeta di Manado dan tahun 1707 dilaporkan terdapat 500 orang Kristen, sedangkan tahun 1771 didirikan jemaat Likupang.  Sejak tahun 1789 – 1817 jemaat-jemaat di Minahasa terbengkalai.  VOC mengalami kesulitan dan akhirnya bubar pada 31 desember 1799.  Pemerintahn di Minahasa diserahkan pada pemerintah Belanda.  Pelayanan terlantar.  Meskipun gereja tidak musnah sama sekali namun kemampuan untuk menjalankan tugas sebagai gereja belum terlibat.  Hal itu dilatarbelakangi oleh pekerjaan penginjilan waktu itu dengan metode penginjilan dengan menghafal pokok-pokok iman dengan sedikit penjelasan.  Baptisan dilakukan dengan persiapan yang kurang, dengan kata lain baptisan massal yang sering dilakukan.

Josef Kam yang dijuluki rasul Maluku mengunjungi Minahasa tahun 1817 kemudian Ds Lenting tahun 1819 dan Hellendorn yang disebut perintis penginjilan di Minahasa, datang di Minahasa pada tahun 1827.

Pekabar-pekabar injil ini melaporkan keadaan gereja di Minahasa kepada Nederlans Zendelling Genootschap (NZG), suatu badab pekabaran injil yang didirikan TH van der Kemp tahun 1797.  Pada bulan Juli 1827 para direktur NZG memperbincangkan suatu usul untuk mengutus pekabar  Injil ke Minahasa, sementara itu Gereja Protestan Indonesia menaruh perhatian juga di Minahasa.  Pada tahun 1822 dikirimlah Lammert Lamers dan Daniel Muller.  Lamers melayani daerah timur Manado sampai Kema sedangkan Muller melayani jemaat di Manado dan Tanahwangko, namun pekerjaan  mereka tidak berlangsung lama karena meninggal dunia.

Tahun 1829 NZG memutuskan Minahasa sebagai lapangan pekabaran Injil NZG disamping Ambon dan Timor.  Diputuskan mengutus Riedel dan Schwarz yang telah menyediakan diri ke Timor untuk pergi ke Minahasa.

Tanggal 12 Juni 1831, kedua utusan injil NZG itu tiba di Manado, dan tanggal tibanya kedua utusan itu yang kemudian ditetapkan sebagai hari Pekabaran Injil GMIM.

Johan Fredrik Riedel ke Tondano dan tiba disana 14 Oktober 1831 dan Johanis Gotlieb Schwarz ditempatkan di Kakas, kemudian pindah ke Langoan.

Berturut-turut tiba di Minahasa Pendeta K.T. Herman tahun 1836 di Amurang, Adam Matern tahun 1838 di Tomohon, E. Hartig di Kema dan Likupang tahun 1849, juga pada Juli 1849 Ulfers menerima tugas pelayanannya di Kumelembuai dari Pendeta K.T.Herman.  N.Graafland di Sonder tahun 1850, Wiersma di Ratahan tahun 1862 dan di Talawaan tahun 1864.  Dalam tempo 33 tahun (1831-1864) tempat-tempat strategis di Minahasa sudah diduduki.  Pada tanggal 18 Agustus 1867 sudah ada pelayanan baptisan di suatu desa terpencil di wilayah Sonder dan tanggal 15 Mei 1845 sudah ada baptisan pertama di suatu desa di Minahasa selatan yaitu Kumelembuai.

Mengapa pekabaran Injil di Minahasa begitu cepat sudah meluas ke seluruh pelosok daerah ini?

Th. Muller Kruger memberi alasan sebagai berikut:

-          Tanah Minahasa sudah dibuka lebih dulu oleh jemaat-jemaat VOC untuk menerima Injil

-          Keadaan geografi sangat menunjang karena rapatnya penduduk dan tidak ada kesulitan dalam hubungan lalu lintas

-          Kontak yang sudah lama ada dengan pemerintah Belanda yang sudah berabad-abad lamanya menarik anak-anak Minahasa masuk kedalam ketentaraan.

-          Kebijaksanaan para pekabar Injil yang menduduki seluruh Minahasa dengan menempatkan banyak tenaga sekaligus.

-          Sekolah-sekolah yang dibuka sangat menarik minat orang-orang Minahasa.

-          Injil bukan disajikan dalam bahasa Indonesia yang masih asing, tetapi pekabar-pekabar Injil mencurahkan segala tenaga untuk menyelidiki serta mempergunakan bahasa suku itu sendiri.

Selain alasan diatas dapat disebutkan metode pekabar-pekabar Injil di beberapa tempat dengan memperhatikan Tonaas atau pemimpin desa.  Perlu dicatat bahwa Pendeta K.T.Herman dari Amurang berhasil membaptis sesudah 10 tahun dengan rajin mengunjungi Kumelembuai pada waktu Hukum Tua Langkay menerima kedatangan Zendeling.  Kepala walak H.W.Dotulong yang memimpin pakasaan Sonder tahun 1824-1861 sangat besar pengaruhnya dalam pekerjaan penginjilan pendeta J.A.T Schwarz di daerah Sonder, sesudah peneguhannya selaku anggota sidi di sana.  Demikian juga pekabaran Injil di wilayah Tonsea sangat dipengaruhi dua tokoh terkemuka disana yaitu Rotinsulu dan Pelengkahu.

Di Tondano Riedel mengalami gerakan masuk Kristen sudah sejak tahun 1834 sedangkan Schwarz di Langoan menunggu 12 tahun lamanya, barulah terjadi perubahan besar.  Di Airmadidi nanti pada tahun 1857.  Dengan pekerjaan penginjilan yang intensif dan terus menerus, maka dalam statistik tahun 1880 di Minahasa terdapat 80.000 orang Kristen diantara 100.000 pendudukmya.

Pendeta Ulfers yang menerima pekerjaan pelayanan di Kumelembuai  dari pendeta Herman, membentuk resort Kumelembuai pada tahun 1855.  Resort Tomohon yang pada mulanya dikerjai Adam Matern  diganti pendeta Wilken dengan baptisan pertama 20 Januari 1839, kemudian tahun 1864 diganti pendeta Wilken sampai tahun 1877.  Sedangkan di Sonder yang dimulai oleh N. Graafland tahun 1850 diteruskan oleh Pdt. Johan Albert Schwarz selama 44 tahun (1861-1905).                Daerah penginjilan lain yang kemudian dibentuk resort adalah Ratahan, Amurang, Manado, Talawaan dan Airmadidi.  Dengan demikian diperlukan banyak tenaga, namun utusan Injil ini tidak pernah lebih dari 9 orang padahal penginjilan sudah mulai membuka sekolah.

Untuk mendapatkan guru-guru sekolah dan guru-guru jemaat maka utusan Injil mengusahakan apa yang lazim disebut ”murid stelsel” yakni pemuda-pemuda di didik di rumah Pendeta.  Ada juga yang melalui apa yang disebut ”anak piara” kemudian ditugaskan disuatu tempat untuk menjadi guru atau guru jemaat.  Melalui cara demikian pula diperoleh dua pendeta pertama orang asli Minahasa yakni Adrianus Angkow yang ditahbiskan tahun 1847 di Langoan dan Silvanus Item yang ditahbiskan tahun 1859 di Tondano.

Penginjilan di Minahasa berjalan bersama dengan usaha pendidikan dan persekolahan.  Sekolah guru dimulai oleh N. Graafland di Sonder tahun 1851.  Memang dalam kunjungan Josef Kam di Minahasa (1817-1818) sudah menemukan sekolah di Minahasa seperti di Manado, Tanawangko, Amurang, Kema dan Likupang.  Begitu juga G.J. Hellendorn yang dikenal sebagai perintis pekabaran Injil di Minahawsa yang datang disini mulai tahun 1827, membuka sekolah di Manado.  Ia melatih sendiri guru-guru di rumahnya.  Pasda tahun 1829 ia membina 5 pemuda Minahasa untuk menjadi guru-guru. Ia berpendapat bahwa anak-anak Minahasa harus diajar dan di didik oleh orang Minahasa itu sendiri.

Tahun 1832 oleg G.J. Hellendorn sudah ada 20 sekolah dan 700 murid dan delapan tahun kemudiansudah ada 56 sekolah dengan kira-kira 10.000 murid.

Tokoh yang perlu dicatat pula adalah Nicolas Graafland, yang lahir pada 2 Maret 1827, sesudah mendapat latihan di Rotterdam ia ditetapkan menjadi penginjil di Sonder, Minahasa.  Ia seorang guru yang qualified dan ia tiba di Jakarta pada tanggal 8 November 1848.  Pada 16 Maret 1851 ia tiba di Sonder dan mulai mengadakan muris stelsel dan pada tahun itu juga Graafland membuka sekolah guru, meskipun hanya dimulai dengan 4 orang murid.  Pada tahun 1854 sesudah ia libur, bertugas di Tanawangko, sekolah guru itu dipindahkannya kesana.

Di Tanawangko,  pada tahun 1862 Graafland juga mempersiapkan buletin yang dikenal dengan nama Cahaya Siang yang terbit mulai 1868.  Maksud buletin ini untuk memberikan dan menuntun rakyat Minahasa dalam pembangunan hidup masyarakat, menciptakan masyarakat yang berpikir  sambil belajar.   Kira-kira 30 tahun Graafland di Tanawangko dengan sekolah guru, dan memulai buletin terkenal itu.  Sekolah guru di tanawangko kemudian pindah di Kuranga Tomohon pada 1884.

Kursus-kursus yang mendidik para penginjil didirikan tahun 1867, kemudian kursus itu ditetapkan menjadi School tot opleiding voor Indische Leraar (STOVIL) tahun 1886.

Pada periode ini pekabaran Injil di Minahasa semata-mata usaha badan pekabaran Injil NZG.  Para pekabar Injil lebih mementingkan hidup rohani sehingga kurang mempersiapkan gereja di Minahasa secara menyeluruh dan utuh, meskipun harus dicatat bahwa Schwarz di Sonder memotori masyarakat di bidang kesehatan dengan membentuk ”kerapatan”.  Kerapatan itulah yang menghimpun dan membina potensi di jemaat-jemaat dan akhirnya lahir R.S.Sonder.  Pendidikan diteruskan dan soal ekonomi organisasi gereja tidak diperhatikan; pembentukan majelis jemaat juga tidak mendapat perhatian.  Pengaruh pietisme pada umumnya berlaku  Meskipun kita mencatat ada  juga pendekatan-pendekatan penginjilan melalui usaha diakonia, pendidikan, kesehatan dan keterampilan.

Ada juga tindakan-tindakan setempat dari segi organisasi seperti Schwarz melantik Majelis Jemaat pada tahun 1850.  Ulfers di Kumelembuai memilih Majelis Jemaat pada 1854 dan J.A.T Schwarz mengumpulkan 13 Majelis Jemaat dalam suatu Clasis di Sonder.  Tindakan-tindakan ini tidak menyeluruh sehingga tujuan adanya satu gereja di Minahasa belum disadari.  Memang tidak ada petunjuk dari NZG, lagi pula para pekabar Injil kurang berkonsultasi mengenai masalah-masalah yang mereka hadapi bersama.  Dapat dikatakan bahwa penginjilan di Minahasa tidak mempersiapkan warganya kepada suatu gereja yang bertanggungjawab.  Pekerjaan NZG selama 40 tahun sangat membawa hasil sebab 4/5 penduduk Minahasa di Kristenkan, walaupun belum telihat suatu dasar kokoh  untuk membentuk dan membangun satu gereja.  Orang-orang Kristen di Minahasa tidak sepenuhnya disadarkan untuk melihat gerejanya menjadi tanggungjawabnya sendiri.

Pelayanan dan pembiayaan gereja belum disadari sebagai tanggungjawab sendiri tapi semua kebutuhan untuk pelayan dan pelayanan ditanggung oleh pekabar-pekabar Injil sendiri.  Meskipun di zaman NZG, Minahasa pernah dijuluki mahkota pekabaran Injil, namun pernah juga disebut suatu kesulitan karena pda akhirnya harus diserahkan kepada instansi lain sebab NZG harus melepaskan  sebelum mampu mengatur dan membiayai dirinya sendiri . (Lintong, D.M, 1995:5-10).

BAB III

Injil Tiba di Sawangan dan Perkembangannya Sampai Menjadi Salah Satu Jemaat GMIM tahun 1924

  1. Pada waktu pendeta Wiltenaar tahun 1771 mengunjungi Minahasa, mendapati Jemaat baru di Likupang dengan 206 anggota, 101 orang dewasa dan 105 anak kecil (Abinemo 1978:99).

Pendeta Zending Lammers tahun 1822 ditempatkan di Kema tetapi karena sakit, tidak banyuak yang dikerjakannya dan meninggal 2 tahun kemudian.  Pendeta J.G.Hallendoren dari Manado mengunjungi Kema dan sesudah ia meninggal, pekerjaan disana dilanjutkan secara bergilir oleh Schwarz, Herman dan Wilkem.  Pendeta Hartig dari Kupang dipindahkan ke Kema mendapati jemaat sudah mundur karena pelayanan yang tidak teratur.  Jemaat Mapanget, Kaasar dan Treman lebih baik.  Pada tahun 1850, ia meninggal dan diganti oleh Lineman dan dimabntu oleh seorang tenaga pribumi Hehanusa.  Dibawah kepemimpinan Hehanusa terjadi suatu ’Gerakan Kebangunan’ yang mencakupi hampir seluruh desa di Minahasa Utara.

Bukan saja rakyat biasa, bahkan imam-imam agama suku minta dibaptis dan menjadi anggota jemaat.

  1. Graafland mencatat bahwa : Kepala sesuatu negeri yang saya kira ia sendiri seorang walian telah menetapkan akan beralih agama beserta seluruh bawahannya.  Pada hari-hari yang sama maka pendeta Lineman beserta pembantu penginjil telah mengadakan pembicaraan dengan para walian dari negeri Sawangan.

”Mereka itu tersudut sebab mereka tidak dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan mengenai penyembahan tuhan yang palsu serta berbagai perbuatan yang menyesatkan.  Mereka meminta waktu untuk berpikir lalu kemudian secara bersama-sama, dan melihat arus dorongan dari  rakyat yang ingin memeluk agama Kristen lalu menetapkan sebagai yang pertama  untuk beralih memeluk agama” (Graafland, 1987 : 492).

Memperhatikan data ini berarti peristiwa ini berlaku sesudah tahun 1850.

Sebelum itu memang sudah ada orang yang mendorong mereka meninggalkan kebohongan itu.  Sebab sudah sejak lama ajaran kebenaran dikhotbahkan oleh seorang murid pendeta Ridel.  Dikatakan bahwa sebelumnya merekatelah belajar berdoa, sudah mengenal kedua belas pasal pengakuan iman dan sepuluh hukum melalui anak-anak sekolah. (Band. Graafland, 1987:493).

  1. Johan Fredrik Riedel tiba di Tondano, 14 Oktober 1831.  Apakah Riedel segera mendapatkan murid dan yang dapat diutusnya ke Sawangan.  Tanggal 16 November 1831 untuk pertama kali memimpin ibadah di Tondano.  Disana ia mendapat 200 anggota baptis dan seorang guru dari Ambon  dan 50 murid sekolah Gubernemen.

Informasi ini juga didapat dari tulisan Runia tentang Latar Belakang Pekabaran Injil oleh Riedel di Tondano yang dikutip pendeta Heibert Paath dalam sejarah seorang guru yang sudah ada di Tondano seyogianya ialah murid Riedel yang datang di Sawangan sekitar tahun 1831.

  1. Dari catatan sejarah oleh Panitia yang bersumber dari Hans Tontey, 14 Desember 2000 mengatakan bahwa Jemaat Sawangan sudah terbentuk tahun 1831.  Gedung gereja berlokasi di SD Negeri Sawangan saat ini.  Pada tahun 1865 gedung gereja dipindahkan ke lokasi saat ini, atas sumbangan tanah dari keluarga Kalensun serta hasil musyawarah tua-tua.

Awal berdirinya gereja pada tahun 1865 ini, tercatat selain kel. Kalensun yang menyumbangkan tanahnya, juga Kel. Oley-Palenewen yang menyumbang jam dan lonceng gereja.

Pendeta G.J.Hellendorn yang dikenal sebagai Perintis Pekabaran Injil di Minahasa, tiba di Manado pada 7 Januari 1827, namun tidak ada data bahwa ia pernah datang di Sawangan.  Dia memang pernah ke pos penginjilan di Kema.  Karena ia mendidik orang menjadi guru sehingga dapat dikatakan kerjanya dirasakan lewat guru yang datang memimpin jemaat Sawangan.  Guru/ guru jemaat Fredrik Walanda yang disebut dari Tanggari datang ke Sawangan (1826-1904) pernah melayani jemaat Sawangan.

Sesudah mencatat data-data tersebut diatas, kita melihat bahwa sesudah tahun 1850 ada pembaptisan massal (12 Agustus 1857) di Airmadidi sebanyak 300 orang termasuk dari Sawangan.

Saat renovasi gedung gereja  GMIM Imanuel Sawangan, pernah ditemukan sebatang besi yang bertuliskan tahun berdirinya gereja di Sawangan yaitu tahun 1831.

  1. Pembaptisan terhadap walian/kepala negeri dengan pembantu-pembantunya berlaku sesudah tahun 1950 berarti bukan baptisan pertama.  Sekitar tahun 1831 kunjungan seorang murid Riedel dari Tomdano dan selanjutnya data tentang adanya sebatang besi yang bertuliskan berdirinya jemaat tahun 1831, berarti sebelumnya sudah pernah ada kunjungan dari Fredrik Walanda dan pada tahun tersebut jemaat Sawangan sudah berdiri, walaupun tanggal dan bulan yang tepat masih perlu ditelusuri lagi.
  2. Perkembangan Jemaat sejak tahun 1831 sampai tahun 1934.

Pada mulanya jemaat Sawangan yang berdiri tahun 1831 bergereja di lokasi SD Negeri Sawangan saat ini.  Pemimpinnya mungkin masih dalam tangan guru/ guru jemaat Fredrik Walanda dari Tanggari.  Nanti pada tahun 1858-1889 yang bertugas sebagai pemimpin jemaat adalah Penatua Saul Sibih.

Gedung gereja yang didirikan di tanah milik kel. Kalensun tahun 1879 yang prasastinya ada di dinding gedung gereja sekarang, namun  sejak tahun 1865 tempat ini telah ditempati oleh bangunan gereja dan 14 tahun kemudian baru resmi diserahkan oleh kel. tersebut.

Hal ini juga sesuai dengan informasi dari mantan ketua jemaat Hans Tontey pada tanggal 14 desember 2000.  Pemimpin jemaat/ ketua jemaat yang sudah tercatat yaitu Ismael Palenewen sebagai ketua jemaat pertama yang masa kerjanya belum diketahui.  Gedung gereja ini dahulunya dikenal sebagai ”Gereja Ayam” yang menurut informasi dari ibu Lusi Maramis putri ketiga dari Penolong Frets Maramis, gereja ayam tyersebut dicat dengan warna abu-abu, walaupun arti dan makna dari warna tersebut tidak disebutkan.  Kemudian, gereja ini diberi nama ”God Zy Met Ons yang berarti Allah Beserta Kita (Informasi didapat dari bapak Johny Mingkid dan Jance Mantiri).  Nanti pada tahun 1935, nama gereja dirubah sesuai perubahan dari sinode dengan nama ”Immanuel” Sawangan.  Dan lewat berbagai upaya melalui seminar-seminar yang dilaksanakan di GMIM Immanuel Sawangan, maka disepakati bersama dan diputuskan bahwa jemaat Sawangan berdiri pada tanggal 17 November 1831 oleh BPMJ dan Panitia HUT Jemaat 2000 – 2005.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sejarah Jemaat GMIM “Immanuel” Sawangan

  1. Andreas Kaunang berkata:

    sangat bernilai sejarah……………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s