Sejarah desa Sawangan

waruga sawanganGoa Sosolongen SaduanBatu KumururTulisan ini disadur dari tulisan seorang tokoh adat desa Sawangan, Bapak Lasut Mantiri, yang menurut beliau “legenda” ini dikutip dari alm. Longdong Manampiring yang merupakan tokoh adat generasi sebelumnya.

Menurut beliau……. Kurang lebih pada tahun 900, Dotu-dotu/opo-opo dari Selatan datang ke Utara dibawah pimpinan Dotu/Opo Runtuwarouw, sebagai Tu’udan (Kepala Rombongan).

Pada saat mereka tiba dan berhenti disuatu tempat, mereka berunding ditempat tersebut mendiskusikan lokasi yang akan mereka tinggali.  Akhirnya disepakati bahwa mereka akan tinggal ditempat dimana mereka berunding tersebut.

Tempat dimana mereka berunding tersebut sampai saat ini masih ada, terletak dipinggir kali Tondano depan Gardu Induk PLN Sawangan, yang berupa sebuah batu besar dan karena menurut “legenda” tersebut mereka berunding sambil jongkok (Kumurur) diatas batu tersebut, maka batu tersebut disebut orang sebagai batu Kumurur. Dan tempat yang disetujui mereka sebagai tempat bermukim, diberi nama Tumpaan, yang lokasinya saat ini berada disekitar SMP Negeri-4 Sawangan.

Bilamana ada yang meninggal dunia, jenazahnya didudukkan di suatu tempat yang terbuat dari batu yang dipahat yang disebut sebagai Waruga.

Karena batu yang bisa dipahat (Sarkofagus) tersebut  tidak bisa ditemukan di sembarang tempat, mereka memilih tempat khusus yang banyak mempunyai batu yang kontur-nya sesuai dengan yang mereka perlukan dan tempat tersebut sampai saat ini dikenal lokasinya di daerah Karepot dan Sosolongen Saduan.

Dalam suatu kurun waktu tertentu, tempat ini (Tumpaan) ditimpa musibah, yaitu penyakit sampar (diperkirakan penyakit Kolera), dan Dotu Runtuwarouw memerintahkan dotu-dotu muda untuk pindah tempat menuju ke Utara, menyusuri sungai Tondano.

Menurut “legenda” tersebut, untuk memastikan agar dotu-dotu muda tersebut tidak salah tempat, maka sang Dotu besar atau Tu’udan Runtuwarouw memberikan instruksi bahwa apabila Dotu tersebut telah tidur, mereka boleh berjalan menyusuri sungai sambil terus mendengar dengkuran dari Dotu tersebut.  Apabila dengkurannya sudah tidak terdengar lagi, ditempat itulah mereka harus berhenti dan memberi tanda sebagai batas.  Tanda batas tersebut berupa pohon Tawa’ang yang ditanam dan disebut sebagai Pasela.

Sebagai Pasela yang pertama yang merupakan batas dari kampung Tumpaan terletak di belokan Nenek Tracy (Nenetresi).

Setiap kali ada bencana atau penyakit sampar, Dotu Runtuwarouw kembali memerintahkan dotu-dotu muda untuk bejalan menuju Utara, dengan melakukan hal yang sama dengan sebelumnya yaitu mendengarkan dengkuran sang Dotu, sehingga Pasela kedua, terjadi lagi dan kali ini terletak ditengah desa Sawangan saat ini, yaitu dibawah perempatan Waruga saat ini yaitu tepatnya depan rumah Kel. Oley-Sibih.

Pada saat Pasela kedua ini telah ditanam, dotu-dotu muda melaporkan pada dotu Runtuwarouw, kemudian Dotu Runtuwarouw memerintahkan untuk membersihkan hutan-hutan disekitar tempat tersebut dan memindahkan pemukiman saat itu dari Tumpaan, menuju lokasi baru yang diberi nama Sawangan . Dotu Runtuwarouw membangun pondoknya di lokasi Kewong (sebutan saat ini), dan ini terjadi kurang lebih pada tahun 1100.

Arti negeri Sawangan yang dibangun oleh dotu-dotu yang timanik di Sawangan yaitu kerjasama antara dua sungai atau pertemuan antara dua sungai yaitu sungai Saduan dan sungai Tondano.

Karena pertumbuhan penduduk saat itu mulai bertambah dan dirasa perlu untuk memperluas wilayah desa saat itu, maka Dotu Runtuwarouw memerintahkan kembali dotu-dotu muda untuk berjalan lagi ke utara dan kembali mendengarkan dengkurannya sampai berhenti di Pasela ketiga, saat ini diketahui terletak di depan gereja Advent Hari Ketujuh.

Lokasi antara Pasela II dan Pasela III, diberi nama Koyawas.

Hal yang sama terjadi kemudian, dan Pasela keempat kemudian ditanam (lokasinya saat ini dikenal sebagai lokasi tanah dari Tete Adam Kalalo).

Lokasi antara Pasela III dan Pasela IV, diberi nama Kandibatu.

Namun pada akhirnya nama-nama ini kembali disatukan menjadi Sawangan.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

7 Balasan ke Sejarah desa Sawangan

  1. okeechobee berkata:

    bpak lasut mantiri yang masih hidup atau yang so almarhum?…nama spot nenetresi biarkan dalam ejaan yang ‘merakyat’ didesa sawangan sendiri,tidak perlu di’permooi’ dalam ejaan asing yang tidak mudah dilidah ne tou sawangan,klu mau ‘go international’
    bolehlah ditranslate ‘grandma tresi’/tresi tetap nama asal..si tou timou tumou tou

  2. Andreas Kaunang berkata:

    sangat bernilai sejarah!!
    tambah sukses and GBU!!

  3. dengan adanya sejarah ini kita bisa tau lbh bnyk!

  4. tommy berkata:

    och bagitu toch tu sejarah sawangan,. baru tau qt,. nice🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s