SEJARAH DESA …….

pengambilan gambar, Oktober 2011 oleh Calvin
TERBENTUKNYA SISTEM PEMERINTAHAN DI WANUA SAWANGAN

oleh : Pnt. Franky Sondey

(copy diizinkan  namun sumber tolong dicantumkan)

Musyawarah adalah salahsatu cara para Wadian /Tu’udan untuk menegakkan adat istiadat serta pembagian wilayah, maka setelah selesai musyawarah di Watu Pinawetengan, setiap anak suku Malesung  dipimpin tonaas masing masing kembali dengan para walak (pemerintahan otonom,  kumpulan beberapa desa/ wanua).

Anak suku Tountewu mendapatkan wilayah di Timur Laut Malesung (Sendangan Amian), dipimpin oleh Tonaas Walalangi dan Walian Rogi mereka berangkat menuju ke arah Timur Laut dan menetap di suatu tempat yang bernama Niaranan (Wulauan sekarang). Untuk sekian lama Niaranan menjadi pusat pemerintahan Tountewu yang meliputi hulu sampai hilir sungai Tondano (Ares dan Singkil), kaki pegunungan Dembean, pesisir pantai Timur Malesung (Maandon sampai Linekepan).

Dari Niaranan, sebagian penduduk dengan keluarganya masing-masing ditugaskan mencari sumber mata air, hingga tibalah mereka di daerah Kulo (We’welen sekarang) dan akhirnya menjadi pemukiman yang sekarang bernama Kembuan.

Sedangkan kelompok yang lain tiba di hulu sungai Saduan, yang dinamakan Dano Tua, yang akhirnya menjadi pemukiman yang bernama Kayu Pute.

Berawalnya terbentuk suatu komunitas di desa ini saat datangnya sekelompok orang yang berasal dari daerah Kembuan pada kurang lebih tahun 900 yang dipimpin oleh Tu’udan Dotu Runtuwarouw yang menempati daerah selatan desa Sawangan saat ini, suatu tempat yang bernama Tumpaan.

Setelah perjalanan waktu yang panjang, berawal dari mewabahnya penyakit sampar saat itu yang menelan banyak korban, pada kurang lebih tahun 1211 komunitas ini kemudian berpindah tempat menyusuri sungai Tondano, hingga tiba pada pertemuan 2 sungai (sungai Saduan dan sungai Tondano) komunitas ini kemudian menempati tempat tersebut yang sampai saat ini disebut Sawangan (yang mempunyai arti : pertemuan dua sungai, saling membantu, saling menguatkan satu dengan yang lainnya).

Sebagai Walian/Wadian saat itu, masih dipegang oleh keturunan dari dotu Runtuwarouw ditemani oleh beberapa Tona’as sebagai panglima perang antara lain Tonaas Rorimpandey dan Tonaas Ruruwawa yang kemudian anak cucu mereka juga sempat menjadi Walian/wadian di wanua ini.

Dalam kurun waktu yang tidak lama, komunitas ini berhasil membina hubungan yang baik dengan komunitas yang ada di sekitar Wanua tersebut, termasuk wanua Kayu Pute yang terletak di hulu sungai Saduan (nama lain : Dano Tu’a) dan kemudian terjadi kawin mawin antara kedua wanua ini dan pada akhirnya  pada kurang lebih tahun 1300-an karena wanua Kayu Pute terlalu sering dilanda banjir dari sungai Saduan, wanua Kayu Pute (yang batas sebelah selatannya adalah daerah Walantakan –Tonsea Lama saat ini) kemudian bermigrasi ke arah selatan mencari tempat yang lebih tinggi sehingga terpisah dengan wanua Sawangan (walaupun masih terikat tali persaudaraan akibat kawin-mawin).  Tempat tersebut yang kemudian dikenal dengan nama Tanggari.

Komunitas ini sangat akrab dengan komunitas di daerah sekitarnya, bahkan sering terjadi kawin mawin antar wanua bahkan ketika terjadi pembagian wilayah Tonsea dan wilayah Walantakan (Tonsealama) menjadi daerah tersendiri, Kepala Walak Tonsea yang berasal dari wilayah Walantakan Pongoh Saidi yang mempunyai 5 orang putri, salah satunya kawin dengan pemimpin dari wanua Sawangan saat itu yaitu Tangka Warouw.

Sedikit disinggung soal kepala Walak Tonsea Pongoh Saidi, anak sulungnya yang bernama Somporiwun kawin dengan pemimpin wanua Tanggari bernama Makariour Pelealu, anak kedua bernama Nensunan kawin dengan pemimpin wanua Sawangan Tangka Warouw, anak ketiga yang bernama Tolang kawin dengan pemimpin wanua Kumelembuai bernama Wagiu, anak keempat bernama Matiti kawin dengan pemimpin wanua Matelungtung (Tumaluntung saat ini) bernama Rotty, anak kelima bernama Dumpo yang kawin dengan pemimpin wanua Rorundu (Kaasar saat ini) yang bernama Karundeng.

Di akhir hayatnya, Pongoh Saidi, dimakamkan di tempat tinggal anak keduanya yaitu Nensunan di wanua Sawangan (Daftar nama dari Waruga Sawangan)

Menurut penuturan Graafland,  Sawangan adalah ibu negeri dari penyembahan berhala di daerah ini.

Agama suku yang ada di wanua Sawangan ada berbagai cerita dan ritus, berbagai foso dan mereka mempunyai pemimpin yang disebut Walian.

Dikuburan terdapat berbagai figura yang diukir pada Waruga.

Terdapat banyak patung dan kebanyakan berbentuk binatang.

Disana terdapat makhluk yang mengerikan berkepala empat yang melambangkan tabiat yang acuh tak acuh, pemandang enteng, percaya pada mistik dan dosa. (Band. Graafland, 1987:48-495).

Roderick C. Wahr menulis bahwa Sarkofagus yang bernama Waruga ada pada tahun 900 Masehi, yang kemungkinan dibuat pada saat Tu’udan/ Walian Runtuwarouw pertama kali membentuk komunitas di wanua Tumpaan/Sawangan saat itu (Sejarah Waruga Sawangan dan legenda Wanua Sawangan).

Dari catatan sejarah bahwa sekitar tahun 1200 pedagang muslim dari Gujarat dan Persia mulai mengunjungi Indonesia dan membina hubungan perdagangan dengan wilayah di Indonesia dan India sambil menyebarkan agama Islam terutama disepanjang pantai Jawa dan Demak (Roderick C.Wahr, Sejarah Garis Waktu)

Kemudian pada tahun 1292 – 1293 Kaisar Cina memberangkatkan banyak ekspedisi barang rongsokan ke Malaka, Jawa dan Maluku.  Ekspedisi ini dimaksudkan untuk berdagang dengan menggunakan kapal layar yang membawa porselen dan keramik ke Minahasa.  Mereka membawa keramik-keramik tersebut untuk ditukarkan dengan beras.

Hubungan dagang ini kelihatannya sudah terjalin dengan penduduk wanua Sawangan saat itu, bahkan beberapa dari pedagang Cina yang meninggal, bahkan dimakamkan bersama barang dagangannya di Sarkofagus dengan nama Waruga di Wanua ini ( beberapa catatan tentang sejarah Waruga ).

Karena cara pemakaman ini mulai dikenal ke berbagai pelosok Minahasa, sehingga mulai tahun 1335, hampir seluruh pemimpin penting dari suku Minahasa, dimakamkan di Sarcophagi, nisan yang berdiri, yang dinamakan Waruga.

Dalam bukunya Harry Kawilarang yang berjudul “Bermulanya Minahasa Dikenal di Peta Dunia” menjelaskan bahwa pengenalan tanah Minahasa oleh bangsa-bangsa Barat diawali dengan kedatangan musafir dari Spanyol pada 1532.

Bermula sejak bandar Malaka didatangi kapal-kapal Portugis pimpinan D’Abulquergue pada 1511 membuka jalur laut menuju kepulauan Maluku.  Jalur ini baru kemudian dimapankan pada 1521.  Sebelumnya, kapal-kapal  Spanyol pimpinan Ferdinand Magelhaens merintis pelayaran dalam usaha tujuan serupa yang dilakukan Portugis.  Bedanya, jalur ini dilakukan dari ujung benua Amerika Selatan melintasi Samudera Pasifik dan mendarat di kepulauan Sangir Talaud di laut Sulawesi.

Sebelum menguasai kepulauan Filipina pada 1543, Spanyol menjadikan pulau Manado-Tua sebagai tempat persinggahan untuk memperoleh air tawar.

Dari pulau-pulau tersebut kapal-kapal Spanyol memasuki daratan Sulawesi Utara melalui sungai Tondano (Harry Kawilarang, BermulanyaMinahasa dikenal di Peta Dunia, 1990).

Hal tersebut berkaitan erat dengan cerita rakyat semasa kepemimpinan dotu Ruruwawa yang menguasai air tawar, beliau menyusuri sungai Tondano, tiba di Pantai Manado, bertemu dengan tujuh kapal layar. Walaupun sempat terjadi selisih paham namun akhirnya mereka diundang datang ke wanua Sawangan, karena satu-satunya tempat/wanua yang tepat berada di tepi kali Tondano hanyalah wanua Sawangan .

Bahkan pada masa kepemimpinan Ruruwawa, komunitas ini telah mengenal kertas, dibuktikan dengan ditemukannya sehelai kertas oleh pendeta P.H.Linemann pada tahun 1861 di Sawangan Tonsea (Jessy Wenas, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa,2007, p.114-115), bahkan gambar upacara Mengelep (melep)  diatas papan ukir berukuran 14 x 5.5cm yang usianya diperkirakan sebelum masuknya bangsa Barat di Minahasa.

Oleh bangsa Spanyol, dotu-dotu kemudian dihadiahkan Pahat atau Senoto yang terbuat dari besi baja yang kuat yang digunakan untuk pengukiran petutup waruga.

Keahlian berkomunikasi kelompok masyarakat wanua Sawangan saat itu sempat ditulis oleh Graafland dalam penelitiannya tentang Minahasa : “…. Yang perlu dicatat juga bahwa diantara orang Tonsea ada yang ahli dalam seni,…… mereka juga terdidik sebab itu bertemu dengan orang Eropa dengan tenang saja, namun sering beralih menjadi tidak sopan tanpa malu-malu, juga suka berbohong ……” (Baca: Sejarah Gereja GMIM Imanuel Sawangan, 2004).

Sebagian dari penjelasan diatas kiranya boleh menjadi bukti sejarah bahwa walaupun komunitas ini sudah ada sejak tahun 900-an, namun adanya wanua Sawangan yang tetap menempati wilayah ini, dimulai pada tahun 1211, karena pada tahun ini Tu’udan atau Walian keturunan Dotu Runtuwarouw masih memerintah, kemudian disusul oleh dotu-dotu lainnya berabad-abad kemudian.

DAFTAR TU’UDAN/WALIAN – HUKUM TUA WANUA SAWANGAN

Tahun  1211 sampai 1355 dipimpin oleh       Dotu Runtuwarouw ….

Tahun  1355 sampai 1405 dipimpin oleh       Dotu Tangkawarouw

Tahun  1525 sampai 1550 dipimpin oleh       Dotu Ruruwawa

Tahun  1550 sampai 1560 dipimpin oleh       Dotu Rorimpandey

Tahun  1560 sampai 1580 dipimpin oleh       Dotu Kalalo

Tahun  1580 sampai 1595 dipimpin oleh       Dotu Manampiring

Tahun  1595 sampai 1611 dipimpin oleh       Dotu Wangke

Tahun  1611 sampai 1625 dipimpin oleh       Dotu Mantiri

Tahun  1625 sampai 1633 dipimpin oleh       Dotu Oley

Tahun  1633 sampai 1653 dipimpin oleh       Dotu Runtukahu

Tahun  1653 sampai 1671 dipimpin oleh       Dotu Maramis

Tahun  1671 sampai 1686 dipimpin oleh       Dotu Kaseger

Tahun  1686 sampai 1708 dipimpin oleh       Dotu Rorintudus

Tahun  1708 sampai 1716 dipimpin oleh       Dotu Mamarimbang

Tahun  1716 sampai 1726 dipimpin oleh       Dotu Mangdong

Tahun  1726 sampai 1747 dipimpin oleh       Dotu Soloy Kaunang

Tahun  1747 sampai 1759 dipimpin oleh       Dotu Karamoy

Tahun  1759 sampai 1778 dipimpin oleh       Dotu Pangemanan

Tahun  1778 sampai 1782 dipimpin oleh       Dotu Peterus

Tahun  1782 sampai 1796 dipimpin oleh       Dotu Kalao Luntungan

Tahun  1796 sampai 1816 dipimpin oleh       Kaidupan Mantiri

Tahun  1816 sampai 1841 dipimpin oleh       Datuk Karamoy

Tahun  1841 sampai 1868 dipimpin oleh       Elisa Wangke

Tahun  1868 sampai 1889 dipimpin oleh       Christian Korompis

Tahun  1889 sampai 1899 dipimpin oleh       Arkelaus Kaseger

Tahun  1899 sampai 1901 dipimpin oleh       Wellem Bolung

Tahun  1901 sampai 1912 dipimpin oleh       Yan Mantiri

Tahun  1912 sampai 1937 dipimpin oleh       Theodorus Wangke (*)

Tahun  1937 sampai 1940 dipimpin oleh       Yusop Montung

Tahun  1940 sampai 1942 dipimpin oleh       Timotius Wangke

Tahun  1942 sampai 1943 dipimpin oleh       Hanock Kaseger

Tahun  1943 sampai 1945 dipimpin oleh       Yusop Montung

Tahun  1945 sampai 1947 dipimpin oleh       Daniel Ticoalu

Tahun  1947 sampai 1962 dipimpin oleh       Yacob Mantiri

Tahun  1962 sampai 1964 dipimpin oleh       Paul Runtukahu

Tahun  1964 sampai 1970 dipimpin oleh       Yan G. Kalalo

Tahun  1970 sampai 1974 dipimpin oleh       Palenewen Mantiri

Tahun  1974 sampai 1977 dipimpin oleh       Anthon Polie Oley

Tahun  1977 sampai 1981 dipimpin oleh       Anthon Maramis

Tahun  1981 sampai 1986 dipimpin oleh       Soleman Bolang

Tahun  1986 sampai 1986 dipimpin oleh       W. Montung (PJS)

Tahun  1986 sampai 1986 dipimpin oleh       Soleman Bolang

Tahun  1986 sampai 1988 dipimpin oleh       Meity Tulong

Tahun  1988 sampai 1996 dipimpin oleh       Elias B. Mantiri

Tahun  1996 sampai 2004 dipimpin oleh       Marlien Humbas

Tahun  2004 sampai 2009 dipimpin oleh       Marthen ML Oley, SE

Tahun  2009 sampai ——  dipimpin oleh       Djemmy R. Maramis

Catatan :

Tulisan ini di presentasikan dalam seminar di ruang Rapat Kantor Bupati Minahasa Utara, Rabu 9 November 2011 dalam rangkaian kegiatan “Festival Waruga” 8-16 November 2011 yang salah satu agendanya adalah seminar sejarah HUT Wanua Sawangan-Airmadidi-Minahasa Utara.

Berikut, adalah tulisan/catatan dari Ivan R.B.Kaunang, pemakalah adalah dosen di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Unsrat.  Magister S2 Sejarah Ilmu Humaniora UGM Yogyakarta 1997-1999, dan Doktor (S3) Kajian Budaya (Cultural Studies) Univ. Udayana-Denpasar Bali 2007-2010.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

4 Balasan ke SEJARAH DESA …….

  1. NonnyReynold berkata:

    mantap… (Y)

  2. Freddy berkata:

    Kalo sekarang lokasi Maandon dan Linekepan jadinya kampung/ negeri apa itu ?

  3. Cynthia berkata:

    Thanks infonya ..sangat bermanfaat…GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s